Rabu, 22 Juni 2022

12 Puisi Terbaik Kelas X

12 Puisi Terbaik Kelas X



Hay Sobat. Beberapa hari kemaren saya mencoba menanyakan kepada guru kita tersayang yaitu Ibu Yeni tentang puisi terbaik yang kita buat pada saat praktik Bahasa Indonesia. Kemudian beliau memberikan hasil puisi tersebut. Nah, pada kesempatan ini akan saya postingkan puisi-puisi yang terbaik, tentu puisi-puisi yang saya pilih ini sudah saya cek and ricek bersama teman-teman tim Majalah Online. 

Mohon maaf tidak semuanya puisi teman-teman saya posting, Sebab menurut teman-teman tim Majalah Online SMA Negeri 1 Karang Bintang sangat disayangkan sebagian dari puisi yang dibuat untuk praktik Bahasa Indonesia masih ada mengambil puisi punya orang. .

Nah, penasaran dengan puisi-puisinya? Inilah 12 puisi terbaik versi Tim Majalah Online


KELAS X IPA 1

OLEH: INDRI SEPTYANINGSIH DWI SAPUTRI

JUDUL: MALAM


Di malam yang sunyi dan sepi 

Aku duduk bermenung

Menatap langit dan bertanya

Adakah ketenangan di sana


Suara ricuh yang saling bersahutan 

Bagaikan badai yang menerjang 

Ingin rasanya aku berteriak

Diamlah wahai isi kepala


Saat seharusnya malam menjadi obat penenang 

Kini justru menjadi luka paling dalam 

Oh malam....aku ingin sebuah ketenangan 

Seperti sang rembulan malam


Kini hanya ada aku dan sang rembulan 

Saling menatap seolah berbicara 

Rembulan, kau tampak begitu menenangkan 

Seolah mengatakan semuanya akan aman


Tapi awan tak tinggal diam

Ia seolah tak ingin diri ini tenang 

Ia bawa gemuruh dan kegelapan

Menutupi sang rembulan yang memberi ketenangan




KELAS X IPA 1

OLEH: REVANESHA SILAWATI

Judul: IBU


Engkau bagai pelita di hidupku

9 bulan engkau mengandungku

Dengan penuh kasih sayang engkau merawat dan menyusuiku

Jasamu sangat berarti bagiku


Ibu...

Engkau bagaikan bintang yang bergelipan di angkasa

Dan engkau bagaikan laksana di hidupku 

Tanpamu aku takkan mungkin seperti saat ini

Tanpamu juga ku takkan mungkin bisa melihat dunia ini


Namun di saat aku ingin membalas Jasamu 

Engkau pergi meninggalkanku 

Nama mu tertulis di atas batu nisan 

Dan sekarang hanyalah tersisa Kenangan


Di saat itu tubuhmu terurai lemas 

Mulutmu membisu 

Matamu tak mampu lagi melihatku 

Nafasmu pun terhenti serentak dengan detak jantungmu


Ibu...

Maafkan anakmu yang hampir menyerah dengan kerasnya hidup ini

Maafkan anakmu belum bisa membanggakanmu 

Aku hanya bisa berdo'a 

Dan aku berharap engkau bisa tenang di sana




KELAS X IPA 2

OLEH: NOOR PUTRI AMANDA

JUDUL: SEKOLAH


Sekolah...

Kau adalah tempatku menimba ilmu 

Kau adalah tempatku mendapatkan uang 

Kau adalah tempatku membuat dosa


Sekolah... 

Maafkan aku jika aku suka terlambat 

Maafkan aku jika aku sering mengabaikan tugasmu

Maafkan aku jika aku pernah melanggar peraturanmu


Sekolah...

Meski kau jarang memberiku jam kosong 

Meski kau sering membuatku kepanasan 

Aku akan tetap menjumpaimu di setiap harinya


Sekolah...

Kau pernah menyita hp ku 

Raziamu menghilangkan kuku ku

Namun hal itu tidak pernah membuatku jera


Sekolah...

Kau adalah tempat yang ku jumpai di setiap harinya 

Tak pernah aku bosan mengunjungimu 

Karena kau adalah tempat ternyaman setelah rumah





 

KELAS X IPA 2

OLEH: DWY TRICAHYANI

JUDUL: PAHLAWAN HATIKU


Di saat resah hatiku 

Kau datang membimbingku

Perjalanan hidup terasa pahit kulalui 

Engkau datang meyakinkan diri ini


Sang pembimbing dan tempat tuk bersinggah

Seperti rumah yang menumpangku saat kurasa lelah 

Tak terbayang hidupku tanpamu 

Wahai ayahku


Wahai pelita kegelapan hatiku 

Ku ingin selalu bersamamu

Engkaulah penenang jiwa ini

Membuat hidupku lebih berarti


Seperti langit malam hampa yang diterangi bintang

Engkaulah penerangku seperti sang bintang 

Nyawaku nyala karena bersamamu 

Terima Kasihku tak cukup untuk ku beri untukmu


Kau membuatku percaya

Sesulit apapun aku pasti bisa 

Terima kasih Ayahku

Engkaulah pengoptimis pikiranku



KELAS X IPA 2

OLEH: EL VINA PUTRI

JUDUL: RINDU IBU


Hidup ini 

Terasa sangat sepi 

Tanpa sosok mu ibu

Waktu terus berputar 

Namun rinduku 

            Takkan pernah memudar

Hari-hari yang ku lalui 

Begitu Terasa sepi 

Tanpa mu

          Kasih sayang mu 

          Kehangatan dan kenyamanan itu 

          Selalu terbayang di benakku

Begitu banyak cerita 

Yang mestinya kau saksikan

Sosok mu 

Yang selalu kurindukan

              Tangis kesedihan 

              Selalu menemaniku 

              Dikala aku teringat padamu

Sosokmu takkan terganti

Engkau akan selalu 

Hidup di dalam hatiku

                   Engkau lah 

                   Pelita hidup ku 

                   Rindu ini 

                   Akan selalu menjadi milikmu





KELAS : X IPA 2

OLEH : AULIA SAGITA PUTRI

JUDUL : HARAPAN


Aku memang mencintaimu dengan harapan

Dengan hari-hari yang berlalu

Kabarmu selalu ku nanti

Dengan penuh harapan


Engkau memang pernah singgah

Namun tak pernah menetap

Engkau yang selalu ku nanti

Engkau juga yang selalu ku harap


Terasa sangat sakit

Tetapi tak bisa ku gapai

Engkau hanya sebagai bayang-bayang

Bayang-bayang yang tak pernah menjadi nyata


Cerita yang pernah kita buat

Kini hanya sekedar kenangan 

Melihat kenangan yang pernah terjadi 

Membuat ku serasa ingin menangis


Cinta yang tak pernah terbalas  

Membuat ku hancur 

Kau juga yang membuat cinta ini menjadi mati

Mati seperti harapan ku kepadamu




KELAS X IPA 2

OLEH : EKA PRASTIYA NINGRUM

JUDUL : RINDU KAWANKU


Hari demi hari aku lalui tanpamu , setiap pagi hari

Burung berkicau dengan merdunya, yang menemani kekosonganku

Angin terus berhembus dari barat ke timur 

Daun-daun mulai berguguran dari pohonnya


Hari-hari terus berlalu dengan suasana yang sama

Setiap hari dari banyaknya orang yang berlalulalang

Namun, tak kunjung juga ia  yang kunanti-nanti datang

Melihat foto-foto lama teringat masa-masa bersamamu


Kau bagaikan cat yang mewarnai kanvas putih

Tawa dan candamu seperti, langit senja di sore hari

Kata rindu ini terus berkeliling di pikiranku

Bersamamu seperti berada bersebelahan dengan api unggun


Kini sudah seribu hari aku menantimu hadir

Matahari terus terbit dan terbenam

Bulan dan bintang terus muncul di setiap malam

Namun tak kunjung juga kabarmu hadir


Bahkan Langit pun ikut bersedih bersamaku

Pepohonan pun melambaikan daunnya untuk memberikan isyarat

Langkah - langkah di hariku serasa tak berarti

Hidupku bagai ruangan gelap tanpa ada cahaya

Harapku angin-angin yang berhembus menyampaikan rinduku.







KELAS X IPS 1

OLEH: FEBRIAN PUTRI AZAHRA

JUDUL: RISALAH CINTA


Perjalanan membawaku pada sebuah risalah 

Pikiranku melalang buana menembus ruang 

Kenangan yang tersimpan terhambat bertebaran

Menuang isi hati yang tak tersirat 

Tentang hakikat yang menyatu pada sebuah laman


Puisi yang merindu... 

Sekian purnama aku berkelahi dengan jiwaku 

Kehidupanku layu lunglai tak bernyawa 

Membinasakan harapan dan impian


Aku pasrah pada Tuhan... 

Untuk meratapi dan mengikuti ketetapan 

Daun mengharap... keajaiban...

Menanti putaran nasib yang tepat

Untuk berdamai dengan hati


Namun... 

Kerinduanku ini... memilih takdirnya sendiri 

Menanti harapan dan kepedulian 

Memunguti puing-puing impian


Demi menjaga hati... yang tinggal sekeping

Menunggu sederetan untaian hikmah

Dikala Purnama bergenderang... mengukir dan meraih 

Harapan dan impian...

Pada sebuah Risalah...






KELAS X IPS1

OLEH: DENI RUMIYATI

JUDUL: KEINDAHAN CIPTAANMU


Hari harus bergulir

Antara siang dan malam 

Matahari berganti bulan 

Angin berhembus


Keindahan hari-hari

Terlalu bersatu 

Menyegarkan mata 

Akan ciptaan yang maha kuasa


Mataku tak lelah untuk memandang 

Kakiku tak ingin bergerak 

Sang mentari telah di darat

Masih terasa begitu hangat


Tuhan... 

Terlalu indah ciptaanmu

Melukis sebuah kenangan 

Tentang masa lalu


Terima kasih tuhan

Aalam ini akan selalu kurawat 

Langit gelap menyembunyikan awan

Ditamanku yang permai kemerasakan alam




KELAS X IPS 1

OLEH: RIZKI AMELIA

JUDUL: PAHLAWAN LEMBAR SEJARAH


Di tengah jeritan dan siksaan 

Hidup dalam dukungan dan ketakutan 

Di bawah telunjuk pemaksaan 

Dengan jiwa untuk membawa bangsa


Matahari yang panas, tidak dapat mewujudkan

Semangat anda 

Malam yang dingin, tidak bisa membekukan tekadmu 

Meskipun musuh sedang menerbangkan pedangnya 

Dalam kesibukan jutaan orang datang


Anda terus bertarung di medan perang 

Berlari untuk tanah, mencapai impian untuk kemerdekaan 

Anda tidak pernah mengeluh 

Tahan sakit punggung dan kekalahan


Harapan saya akan selalu menemani 

Untuk tanah negara ini setiap hari 

Saya tidak mau lagi 

Melihat ibu pertiwi tersiksa


Sekarang..... 

Anda telah pergi, waktu telah berubah

Tapi namamu akan selalu harum 

Isi lembar sejarah



ELAS : X IPS 2

OLEH : PERDI TRI MITTAHUDIN 

JUDUL : PELAJAR


Mentari pagi kurengkuh 

Semangatku terus kujaga 

Ku tahu ini takkan mudah 

Tapi ku takkan pernah menyerah


Bagiku belajar bukan sekedar menjawab soal 

Atau datang sekolah 

Bagiku belajar adalah persiapan 

Persiapan untuk masa depan


Ku tak tahu masa depan

Tapi masa kini, pasti aku tau

Takkan ada detik yang terlewatkan

Tanpa kuingat cita-citaku


Kuingin kelak menjadi TNI

Agar bisa berbagi ilmu 

Ku tak ingin sia-siakan hari ini

Agar nanti ku jadi TNI yang berilmu


Ku ingin siapkan masa depan

Agar kelak ku tak menyesal

Hidup ini hanya sekali 

Aku ingin membuat dirku berarti




KELAS: X IPS 2

OLEH: MILYSA

JUDUL: KASIH SAYANG IBU


Engkaulah ibuku engkau yang

Melahirkan dan membesarkanku

Merawatku dengan kasih

Dan sayangmu


Tiada kata lelah yang ku

Dengar dari mulutmu

Engkau selalu bekerja keras

Agar hidup ku selalu berkecukupan


Surgaku ada di telapak

Kakimu doamu adalah

Kunci dari kesuksesanku

Bagaikan malam engkaulah


Rembulan yang menyinari

Hari-hari ku semangatmu

Keras bagaikan baja wajah

Mu bersinar bagaikan rembulan


Bahkan sebongkah berlian

Pun tidak cukup untuk

Membalas jasa-jasamu

Engkaulah ibuku


Kurator : Wivya Cahya

(22/06/22)


Sabtu, 26 Maret 2022

TUMBANG AKAN KENYATAAN|| PUISI

TUMBANG AKAN KENYATAAN|| PUISI

Gelap kembali mengekang
Ia selalu terang untuk petang
Kembali mengerang
Menyuarakan citra warna yang hilang.

Ku pikir akan ada nestapa yang melayang
Meratas lubang kebimbangangan
Menguak gelisah yang memekikkan
Ck, lelucon macam apa yang sedang ku fikirkan?

Tumbang akan kenyataan
Berhasil memonopoli keadaan
Usah risaukan
Lantaran aku sudah tak bertujuan

Cita dan asa ku terlelap malam
Tak bersinar dan tenggelam
Hanya tersisa bayangan tenteram
Usaikan usaha hingga lebam

Kamis, 14 Oktober 2021

PUISI| TAK JADI BIRU

PUISI| TAK JADI BIRU


Kilas kata terucap merdu
Berdendang menari namun terhenti
Sajak rindu yang ku ulur tanpa ragu
Menghilang menjauh dalam jalin titian kayu

Lama, sepi, sendiri...
Langit malam makin menghitam
Langit siang tak jadi membiru
Jemu ku tawan rindu tanpa temu
Lelah ku lawan ego yang berakhir sendu

Rindu ...
Merindu...
Mengabu...
Biarlah jadi hiasan di dinding kalbu
Terselip dalam mimpi berujung lara
Dalam asa yang kehabisan bara
Ku lepas namamu dengan doa
Ku raih senyumku dengan paksa

Bumi, 14 Oktober 2021
ReYa_FS.


Sabtu, 03 April 2021

PUISI~CAPELLA| Sisa Romansa

PUISI~CAPELLA| Sisa Romansa

Maret ku kuyup karena hujan
Galaksi ku terhenti memberi Kehangatan
Di ujung hari pun, tak ku temukan 
Mungkin pergi harusku wujudkan.

Ruang kelam menelisik, menesuk diriku
Terbentuklah buku lara dunia ku
Tak ada rindu terkuat selain mengingat dirimu
Tuan, harusnya hanya aku yang manjadi bungsumu.

Sebelum semuanya penuh dengan tiba-tiba tanpa rencana
Lalu aku di paksa dewasa sebelum waktunya
Dalam bening rintik sisa romansa
Terpasung luka bisu tak terbaca

Apakah pengasingan ini sangat membuat mu Jera?
Tuan, sekali lagi ada harap namaku yang tertera disana.
Pun, tak peduli betapa banyak asa 
Yang di patah dengan sengaja
      
Aku peminta kasihmu yang tak terbalas rasa
Mata mu tak pernah hinggap  seutuhnya
Punggung ku seolah terbiasa menjadi samsak raga
Pundakku pun kian menguat seiring dengan alur cerita

Tapi tidak dengan kaki mungil ku, ia lelah berjalan tanpa  henti
Berpijak pada kata "pasti" hanyalah sekedar mimpi
Semoga kelak, kau tak terjebak rasa sesal setelah menikam mati
Hati yang tengah berlari menuju kata "abadi".


By : Capella

Sabtu, 13 Maret 2021

SAJAK DARI SEORANG GURU | DYAH RATNA P.

SAJAK DARI SEORANG GURU | DYAH RATNA P.

Wah.. wah.. Jujur kaget. Mimin baru saja dapat pesan whatsapp dari salah satu guru kita. Yang isinya tentu adalah sebuah curahan hati dari guru kita tercinta. Hayo, siapa jago yang menafsirkan rangkaian dari beliau. Mimim kasih hadiah. Silakan komen pada kolom komentar di bawah ini. Tapi positif ya..,

BATAS KERINDUAN

Diujung rapuhku selalu ada tanya yang tak pernah terjawabK

Kemanakahhati akan melangkah

Membawa berjuta asa yang hampir sirna 

Kusandarkan anganku pada angin yang berhembus mesra

Berharap semu akan hasrat membara

Diiringi nyanyian merdu akan luka yang semakin menganga

Hari demi hari serpihan impianku berjatuhan

Tertiup duka berkuasa

Tanpa mampu menahan sakitnya nestapa

 

Duhai...jiwa kekuatanku

Kemanakah engkau pergi merayu sementara disini...

Tertinggal rasa yang semakin membeku

 

Dyah Ratna P

Simpang Empat, 22:01



Beginilah Caraku Tabah

Aku lupa cara menuang rasa pada secangkir kopi, yang kau pesan dengan isyarat perpisahan

Pasti dan perlahan beku di pelupuk anak kerinduan

Kau cairkan menjadi hujan yang tak terpetakan

Dengan gaduh yang tak lebih riuh dari diam yang kau tinggalkan

Bersama waktu yang biru atau temaram lampu yang kian redup menjadi sepi yang di tepian sebelah mana aku berdiri, tak jua aku mampu mengenali

Mungkin kau ingin pulang

Atau sekedar menjauh yang kejap

Bahkan kedap terhadap raungan yang meratap dan tersaji

Bagai hidangan di meja sebuah kota yang gelap

Kota yang kerlip lampu lampunya pernah kita anggap sebagai tetanda

Bahwa hati yang luka mestilah di balut

Dengan suara yang lebih lembut dari asap

Pulanglah, aku hanya akan mengeja

Sendiri yang dulu pernah menemani

Hanya berbeda, kali ini ada cerita yang tak ingin ku lukai dengan jujur yang terselubung

Sedang kau tak jua mengenali

Biarkan kupejam mataku yang buta, dimana anak darah menetes

Darinya lalu mengalir di tengah embun pagi yang mengerumun pada jendela kaca.....lalu memilih untuk pergi

Saat matahari mulai meninggi

Kekasih....mungkin kau lupa satu hal;

Bahwa pilihanku tak pernah salah

Memilih peran pada drama yang tersaji

Bagi siapa saja yang ingin menikmati

Katup bibirku yang basah merah, menggumam rasa yang tak pernah kuabaikan

#Kang Gun

Karang Bintang, 5 Oktober 2016

10:40


Sabtu, 06 Maret 2021

PUISI-CAPELLA| Terkatup Luka

PUISI-CAPELLA| Terkatup Luka

Seperti bunga dandelion yang terbang saat semesta menghembuskan nafas melalui desiran angin
Aku tumbang akan kenyataan
Bersamanya yang pernah  saling jadi tujuan

Sebuah angan yang pernah ku simpan Kini membuka paksa ingatan
Selaksa rasa tak bisa di jelaskan
Macam kecewa tapi lebih menyakitkan

Telah menelan ribuan detik pun,
Tak juga merubah kenyataan
Tuan,
Sayangnya kesabaran ku bukan permainan

Kala memori tak berjudul kembali berputar
Melody itu terus berbunyi tanpa teratur.
Waktu  yang terulur
Menandakan ketidak cocokan alur

Harusnya ini menjadi hal yang biasa
Lantaran aku selalu bernasib sama
Aku terjebak pada labirin petaka paling nyata
Terkatup luka, yang entah sampai kapan sembuhnya

Singgah mu yang tak pernah sungguh,
Membuat ku  tersakiti tanpa tersentuh.

_Capella_

Sabtu, 27 Februari 2021

PUISI-REYA| TITIK HITAM

PUISI-REYA| TITIK HITAM

Ini adalah kisah kami
Di mana asasi tak lagi berarti 
Aksi hanya akan berujung mati 
Dan mati dianggap sebagai mimpi

Ini tanah kami!
Ini hak kami!
Tapi mengapa 
Kami yang dianggap mengungsi

 Benang basah kau paksa keringkan
 Cermin pecah kau paksa satukan
 Batu permata yang kau nikmat
 Batu nisan yang kami dapat 

Segenggam emas awal kebahagiaan
Sebongkah permata pembawa kemakmuran 
Sebutir intan pemercik kemasyuran
Sudahkah cukup mengobati setitik hitam tanda kemusnahan

Majusejahtera 16/06/2019

Rabu, 10 Februari 2021

Launcing Perdana Antologi Puisi Batu Nisan Batu Bumi SMAN 1 Karang Bintang

Launcing Perdana Antologi Puisi Batu Nisan Batu Bumi SMAN 1 Karang Bintang



BATULICIN Di bawah
rindangnya pohon Hutan Kota Kapet
Batulicin, antologi puisi "Batu Nisan Batu
Bumi" karya pelajar SMAN 1 Karang Bintang dilaunching, Sabtu (16/11).

Antologi puisi setebal 100 halaman itu berisi puisi yang seluruhnya bercerita tentang kerusakan alam dan lingkungan serta kekhawatiran terhadap masa depan
manusia. Dengan cara yang kritis, para
pelajar mengkritisi eksploitasi lingkungan
yang terjadi. 
Suci Pasaribu misalnya. Dalam puisinya yangberjudul "Menatap Bisu Durjana di Atas Tanah Sabana", ia menulis, "Tatkala hamparan emas hitam tinggal wacana, humus tanah hanya secarik sejarah belaka." Najunda Dwi Cahyani juga mencatat pemikirannya soal kerusakan lingkungan. la berkata, "Kini hitam telah melekat. Kau kais emas kau tinggalkan bekas tersirat. Menolak lupa tanpa ingat kesadaran. Tercipta bencana berujung kehancuran." Pada puisi berjudul "Liang Kematian", Fitria Maya di halaman 29 juga mengkritisi soal kerusakan alam dan lingkungan. "Sayangnya keadaan tak memberi pilihan.
Selain menukar masa depan dengan
kepuasan," begitu kata Fitria dalam puisinya.
Guru pembimbing pelajar SMAN 1 Karang
Bintang, Arif Rahman, bersyukur antologi
puisi karya murid-muridnya bisa diluncurkan. "Jelas kami senang dan bangga, sebab buku itu murni karya mereka. Dari mengumpulkan naskah, desain cover, proses edit, semua
dilakukan oleh mereka. Saya cuma
mendorong agar mereka bisa berkarya dan memfasilitasi dalam penerbitan saja," jelas guru Bahasa Indonesia itu.

Prasetyadi, dari Majelis Hahahihi, mengaku kagum dengan para pelajar yang sudah berhasil merilis antologi puisi. Apalagi tema-tema yang diangkat merupakan topik sensitif yang tak biasa dibicarakan, bahkan oleh para sastrawan senior di Kalsel. "Ini jelas sangat baik untuk perkembangan sastra di Tanah Bumbu, terutama di
Batulicin" katanya.

Apresiasi yang sama datang dari pegiat
sastra lainnya, Tato A Setyawan. Salah satu penggagas Majelis Hahahihi itu berharap karya yang diluncurkan itu dapat memacu semangat dari para pelajar lainnya untuk melakukan hal yang sama yakni berkarya.


Batu Nisan Batu Bumi yang diterbitkan oleh Scripta Cendikia Banjarbaru ditulis oleh 60 pelajar SMAN 1 Karang Bintang.
Sementara launching tersebut dihadiri
ratusan pelajar dari Kecamatan Mantewe,
Karang Bintang, Batulicin, dan Simpang
Empat. Kegiatan itu juga dihadiri banyak
pegiat seni dan sastra di Bumi BersujUd.

Baca artikel ini di halaman apahabar.com
Di Hutan Kota Batulicin Majelis Haha Hini Launching "Batu Nisan Batu Bumi"


Minggu, 07 Februari 2021

Hening

Hening


Pagiku ku tarik malam
Tawaku ku tutup ragu
Diamku ku simpan sembilu
Lariku ku sandung tempurung

Sampai bila dapat ditahan?
Sampai mana jeruji terantai?
Sampai sini hanya pijakan
Bukan kawan dalam perjalanan

Makan hati berulam jantung
Tak jua puas tanya menggantung
Langkah maju terasa pilu
Langkah mundur terasa luntur

Hening tertetes rindu
Kisahnya terhalang waktu
Detik berlalu tanpa tahu
Nyatanya tak seindah kata madu


By.reya